Ibadat Jumat Agung 2026 di Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu: Mengenangkan Sengsara dan Wafat Kristus

Pada Jumat, 3 April 2026, Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu menyelenggarakan Ibadat Jumat Agung dalam tiga sesi yang dipimpin oleh tiga romo. Perayaan berlangsung khidmat dengan pembacaan Kisah Sengsara, Doa Umat Meriah, Upacara Penghormatan Salib, dan Doa Novena Kerahiman Ilahi Hari Pertama.

ADAnggun Dwi Cahyadi
3 April 2026
Ibadat Jumat Agung 2026 di Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu: Mengenangkan Sengsara dan Wafat Kristus
  • Jumat, 3 April 2026, Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu merayakan Ibadat Jumat Agung dalam tiga sesi untuk melayani seluruh umat paroki. Berbeda dari hari-hari biasa, altar tampil tanpa salib, tanpa lilin, dan tanpa kain altar mencerminkan keheningan dan kedukaan mendalam atas wafat Kristus. Ketiga ibadat dipimpin oleh:

    • Pukul 14.00 (Bahasa Jawa) dipimpin oleh Rm. Tarsisius Insaf Santosa, Pr
    • Pukul 17.00 (Bahasa Indonesia) dipimpin oleh Rm. Bonifasius Benny Bambang Sumintarto, Pr
    • Pukul 19.30 (Bahasa Indonesia) dipimpin oleh Rm. Stefanus Sumpono, MSC

    Sebelum ibadat dimulai, umat bersama-sama mendoakan Doa Novena Kerahiman Ilahi Hari Pertama, mengawali devosi sembilan hari menjelang Pesta Kerahiman Ilahi.

    Puncak Liturgi Sabda adalah pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus menurut Injil Yohanes 18:1–19:42. Kisah ini dibawakan secara dramatik oleh tim petugas Pasio, mengisahkan perjalanan Yesus dari penangkapan di Taman Getsemani, pengadilan di hadapan Pilatus, hingga wafat-Nya di Golgota dan pemakaman-Nya. Saat sampai pada bagian wafatnya Yesus, seluruh umat berlutut dalam keheningan penuh sebagai penghormatan.

    Setelah Doa Umat Meriah yang meliputi sepuluh intensi doa, mulai dari Gereja, Bapa Suci Leo XIV, Uskup Robertus Rubiyatmoko, para calon baptis, hingga orang-orang yang menderita. Ibadat dilanjutkan dengan Upacara Penghormatan Salib. Imam membuka selubung kain merah dari salib secara bertahap sebanyak tiga kali, disertai nyanyian "Lihatlah Kayu Salib." Umat satu per satu maju untuk membungkuk memberikan hormat kepada salib dalam keheningan yang khusyuk.

    Ibadat diakhiri dengan Komuni dan Ritus Penutup. Imam dan seluruh petugas liturgi meninggalkan altar dalam keheningan, dan umat pun keluar dari gereja tanpa nyanyian, sebagai penghayatan atas dukacita Trihari Suci.

    Semoga kita semua semakin menghayati kasih Kristus yang rela menderita dan wafat demi keselamatan kita.

Ditulis oleh: Anggun Dwi CahyadiEditor: Monica Warih

Artikel Terkait